Sabtu, 30 Juni 2018

Nabi Musa as Sang Penumpas Kezhaliman Firaun


Musa adalah putra ‘Imran bin Yashhar bin Qahits. Silsilah keturunan Musa bersambung hingga ke Ya’qub AS putra Ishaq bin Ibrahim. Saudaranya bernama Harun AS, yang diutus oleh Allah sebagai pembantu dan penolong Musa ketika ia diutus menghadap Fir’aun untuk menyampaikan risalah Allah. Itu terjadi atas permohonan Musa, “dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku.” (Qs. Thaha: 29)
Nabi Musa as adalah rasul yang termasuk keturunan Bani Israil yang dilahirkan di Mesir pada masa kekuasaan raja Fir'aun. Nama asli raja lalim ini adalah al-Qalid bin Mush’ab yang berjuluk Fir’aun. Fir’aun merupakan nama yang diberikan kepada raja dan penguasa besar Mesir, seperti Kisra yang diberikan sebagai julukan bagi raja Persia, dan Qaishar bagi raja Romawi.
Raja Fir'aun ini terkenal akan kezalimannya. Ia suka menindas rakyatnya semena-mena. Dia juga sangat sombong, sampai-sampai dengan pedenya mengakui dirinya sendiri sebagai Tuhan. Untuk melaksanakan ambisinya dia dibantu banyak tukang sihir.
            Ia menikahi Asiyah, seorang perempuan shalehah yang beriman secara sembunyi-sembunyi. Setiap kali ia mau menyentuh Asiyah, badannya kaku mendadak. Kasian deh, si Fir'aun hanya bisa memandangi Asiyah doang!
Fir’aun naik tahta menggantikan saudaranya yang telah mati, Qabus, yang telah diajak masuk Islam oleh Yusuf, namun ia enggan dan menentang dengan keras. Yusuf mangkat ke sisi Tuhannya pada masa pemerintahan Qabus, kerajaannya berumur panjang, mencapai puncak, kemudian musnah. Ketika kerajaan dikendalikan oleh saudara Qabus, Fir’aun, tekanan terhadap bani Isra’il semakin keras. Mereka merasakan bermacam-macam siksaan dan cobaan, hingga hampir saja bani Isra’il musnah. Penguasa ini lebih kejam, kufur, dan zalim dari pada saudaranya, Qabus. Hari-hari pemerintahan Fir’aun berjalan lama. Adapun bani Isra’il setelah kewafatan Yusuf AS masih menegakkan dan memeluk agama bapak mereka, yaitu agama Ibrahim yang hanif dan tidak memberatkan, hingga masa kerajaan dipimpin oleh Fir’aun di mana mereka merasakan siksaan dan kejahatan yang tidak pernah dirasakan orang sebelum maupun sesudah mereka. Karena Qabus tidak lebih jahat dan lebih zalim dari Fir’aun. Renungkan ayat-ayat surat al-Qashash berikut:
Ini adalah Kitab (al-Qur’an) yang nyata (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar bagi orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Kami hendak memberi karunia kepada orang-oragn yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Akan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” (Qs. Al-Qashshash: 2-6).
Masa pemerintahan Fir’aun
 Fir’aun memerintah bani Isra’il lebih dari 400 tahun. Ia membebani mereka dengan siksaan yang berat, merendahkan, dan menjadikan mereka budak untuk melakukan pekerjaan yang sangat rendah dan hina. Bani Isra’il dipecah belah menjadi beberapa kelompok. Ada kelompok yang bertugas membangun, bertani, menangani pekerjaan-pekerjaan yang kotor dan seterusnya. Orang yang tidak mempunyai keahlian melakukan satu pekerjaan tertentu dikenai pajak, sebagaimana firman Allah: “Dan ingatlah ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya’ mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya…” (Qs. Al-Baqarah: 49). Ketika Allah hendak membebaskan bani Isra’il, maka diutuslah Musa untuk menyelamatkan mereka dari perbuatan jahat sang tirani ini dan melepaskan mereka dari perbuatan zalim dan kesewenang-wenangannya. Jadi, pengutusan Musa AS merupakan rahmat bagi bani Isra’il dan pembebas dari penganiayaan sang raja tirani tersebut.
Suatu malam dia bermimpi seakan-akan negerinya habis terbakar. Orang-orang Mesir banyak yang mati. Hanya tinggal orang Israil saja. Pusing banget dia habis bangun tidur.
            Dengan stress, ia mengumpulkan semua tukang sihirnya. Kira-kira apa sih arti mimpinya? Semua tukang sihirnya juga sibuk mikir.
            Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa maksud mimpi itu adalah kelak akan ada seorang laki-laki Bani Israil yang menghancurkan kekuasaannya. Jelas Fir'aun ngeper setengah mati.
            Maka itu kemudian dia memerintahkan agar semua bayi laki-laki Bani Israil dibunuh tanpa sisa. Sejak saat itu banyak bayi laki-laki Bani Israil yang tidak berdosa dibantai di tangan tentara Fir'aun.
            Namun Allah berkehendak lain. Lahirlah seorang bayi Bani Israil yang dinamai Musa. Ayahnya bernama Imran, seorang menteri kerajaan yang diam-diam sudah beriman kepada Allah swt. Atas kekuasaan Allah, Imran tidak sadar istrinya hamil dan meninggal sebelum sang istri  melahirkan.
            Ibunya diilhamkan Allah untuk menghanyutkan bayi Musa dalam sebuah peti kecil ke aliran sungai Nil.
            Aliran sungai Nil terus membawa peti berisi bayi Musa hingga ke istana Fir'aun. Tepat saat itu Asiyah, istri Fir'aun melihatnya. Ia langsung sayang pada si bayi yang lucu itu. Putri Fir'aun (dari istri yang lain) yang tadinya punya penyakit kulit belang, langsung sembuh sakitnya waktu menggendong bayi Musa.
            Asiyah dan putri Fir'aun jadi tambah sayang pada si bayi. Diambillah si bayi dan diangkatnya sebagai anak. Mula-mula Fir'aun keberatan, namun ia luluh juga melihat istrinya yang begitu ingin punya anak.
            Akan halnya ibu Musa, ia sangat khawatir kalau bayinya ditemukan dan akhirnya dibunuh Fir'aun. Ia memerintahkan Maryam, kakak Musa, mengikuti peti itu dari jauh. Maryam pulalah yang lapor pada ibunya kalau Musa diambil oleh Asiyah.
            Tak lama terdengar pengumuman jika Asiyah mencari seorang perempuan untuk menyusui Musa. Langsung ibu Musa melamar dan diterima. Sejak saat itu ibu Musa bisa menemani anaknya di istana.
Musa menolak air susu
Musa hidup di istana Fir’aun dalam asuhan Asiyah atas izin Fir’aun. Allah telah melimpahkan kecintaan terhadap Musa dalam hati Asiyah. Begitu juga dengan Fir’aun, ia mencintai dan bersikap lembut pada Musa. Hal ini sejalan dengan firman-Nya, “Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (Qs. Thaha: 39)
Asiyah segera mencari perempuan yang biasa menyusui bayi (murdhi’) untuk Musa, sebagai dhi’r (perempuan yang menyusui anak orang lain-terj) yang bertugas menyusui dan mendidik Musa. Tapi, Musa menolak minum air susu mereka, hingga ia merasa sangat lapar dan menangis sekeras-kerasnya. Musa tidak mau menyusu dari puting susu para murdhi’, hingga permaisuri Fir’aun khawatir dengan keselataman jiwa Musa. Akhirnya, Asiyah bergegas mencari murdhi’.
Saudara perempuan Musa melihat kejadian itu, karena ia mengawasi Musa dari kejauhan. Lalu ia mendatangi Asiyah, istri Fir’aun, dan mengajukan tawaran, bahwa ia akan membawakan seorang murdhi’ terpercaya, baik, dan menjamin kepuasan bayi yang disusui sebagai timbal balik dari upah yang diberikan. Permaisuri Fir’aun berkata, “Bawalah ia kepadaku. Jika Musa mau menyusu dari puntingnya, aku akan memuliakannya dengan berbagai macam penghargaan.
Saudara perempuan Musa pulang ke rumah dan mendatangi ibunya, lalu menceritakan berita di atas. Singkat cerita, ibu Musa datang ke istana. Ketika ia melihat Musa, hampir saja ia berkata, “ini anakku” kalau saja Allah tidak menguatkan hatinya, hingga keluarga Fir’aun tidak mengira bahwa perempuan tersebut adalah ibu Musa. Saat ia meletakkan Musa di pangkuannya, dengan cepat Musa menyambar puting susunya dan menyedotnya dengan rakus dan penuh kenikmatan sampai ia segar dan perutnya kenyang. Asiyah merasa sangat senang dan meminta ibu Musa tinggal di istana bersamanya untuk menyusui anak laki-laki ini. Asiyah berjanji akan memberikan beragam hadiah dan akan memuliakannya dengan bermacam penghargaan. Tampaklah sifat ‘iffah (menjauhkan dari hal-hal yang tidak baik) ibu Musa, ia berkata, “Jika anda tidak keberatan, anda mempercayakan anak ini kepadaku, aku akan membawanya ke rumah dan akan merawatnya dengan penuh kasih dan perhatian, seperti merawat anakku sendiri. Karena aku tidak tega membiarkan rumah dan anak-anakku demi merawat anak ini.” Asiyah menyetujui permintaan ibu Musa. Ia memberikan Musa pada ibunya dengan syarat setiap waktu luang ia harus membawa Musa ke istana untuk mengetahui kondisinya. Hal ini karena kecintaan Musa telah menguasai hati Asiyah. Begitulah Allah membuktikan janji-Nya, Ia mengembalikan Musa pada ibunya untuk disusui dalam kondisi aman tentram di bawah penjagaan dan perlindungan Fir’aun. Perhatikan ayat-ayat berikut: 
Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Ibu Musa berkata kepada saudara perempuan Musa, ‘Ikutilah dia’ maka terlihat olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya. Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusuinya sebelum itu. Saudara Musa berkata, ‘Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?’ Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Qs. Qashash: 10-13)
Waktu berjalan terus. Fir'aun dan Asiyah sayang banget sama Musa. Kadang orang menyebutnya Musa bin Fir'aun. Setelah cukup dewasa, Allah memberikan pangkat kenabian padanya.
            Suatu hari, Nabi Musa sedang jalan-jalan di kota. Ia melihat seorang Bani Israil sedang bertengkar dengan seorang Qibthi (Mesir). Beliau mencoba mendamaikan. Tapi si Qibthi keukeuh nggak mau baikan. Saking jengkelnya, Musa meninju orang itu di dadanya. Orang itu roboh.
            Satu, dua, tiga. Musa menunggu. Aduh, kok dia nggak bangun-bangun juga sih? Musa panik sendiri. Whaaa... ternyata orang itu tewas!
            Sumpah, Musa menyesal sekali. Ia nggak pernah berniat membunuh. Maka ia mohon ampun sungguh-sungguh pada Allah, dan diampuni-Nya. Tapi sejak saat itu Musa ketakutan sendiri.
            Musa enggan balik ke istana. Di jalan, dia menemukan kejadian serupa. Emang sih, Bani Israil dan Mesir itu nggak pernah akur, kayak Tom and Jerry. Dengan bete, Musa mendekati mereka. Ia juga nggak mau langsung bela si A atau si B.
            Tiba-tiba orang Mesir itu berteriak mengingatkannya akan peristiwa pembunuhan tempo hari. Kebetulan ada pejabat istana yang dengar dan langsung lapor ke Fir'aun.
            Jadi deh, Musa seorang buronan. Ia kabur tak tentu arah. Di jalan, beliau bertemu dengan seorang bernama Khizqi yang menasihatinya agar pergi sejauh mungkin.
            Pengembaraan mengantarkan beliau ke Madyan. Udah jauh banget lagi. Nggak mungkin juga tentara Fir'aun nguber sampai Madyan.
Musa duduk di bawah pohon. Lapar dan lelah menjadikan dia merasa penat. Ibnu Abbas berkata, “Musa keluar dari Mesir menuju Madyan. Jarak antara kedua kota ini adalah delapan hari perjalanan. Ia hanya memakan sayur dan dedaunan. Ia tanpa alas kaki, sepasang terompahnya putus akibat perjalanan jauh. Kemudian Musa duduk di bawah naungan bayang-bayang, ia adalah teman sejati ciptaan Allah. Perutnya begitu tipis karena lapar dan hijaunya sayuran menghiasi isi perut beliau. Musa sangat membutuhkan sebiji kurma.”
Siang bolong, matahari bersinar terik. Musa berteduh di bawah sebatang pohon kurma. Tak jauh darinya ada sebuah mata air dimana orang berebut mengambil air. Menyingkir dari situ, tampak dua orang gadis menenteng ember kosong.
            Ternyata gadis-gadis itu mau mengambil air, tapi selalu kalah saingan dengan kaum laki-laki yang berbadan besar dan kuat. Nabi Musa menawarkan bantuannya untuk mengambilkan air bagi kedua gadis itu.
            Dengan rasa terima kasih, kedua gadis itu pulang dan bercerita pada ayahnya tentang seorang pemuda baik hati yang menolong mereka. Sang ayah, yang ternyata Nabi Syuaib, meminta pemuda itu mau datang menemuinya.
            Ternyata Nabi Musa diminta membantu kedua gadis itu menggembala ternak. Nabi Musa menerimanya karena ia juga butuh pekerjaan. Tentu sebelumnya ia bercerita pada Nabi Syuaib tentang pelariannya.
            Nabi Syuaib sangat puas dengan hasil kerja Musa. Tambahan lagi Musa sangat sopan dan berbudi baik. Suatu hari Nabi Syuaib memanggil Nabi Musa. Ternyata ia hendak menjodohkan Musa dengan salah satu putrinya. Tapi ada syaratnya, Musa harus mengabdi padanya delapan tahun lagi, syukur-syukur jika ia menggenapkannya menjadi sepuluh tahun. Dengan senang hati Musa menerimanya.
            Musa menikahi Shufairah, salah satu putri Nabi Syuaib. Mereka hidup sangat bahagia dan bekerja sangat rajin.
            Genap sepuluh tahun menikah, Musa berkeinginan pulang kampung ke Mesir. Saat itu Shufairah sedang hamil tua. Nabi Syuaib sebagai orang tua yang baik merestui niat mereka untuk mandiri serta mendoakan keselamatan dan keteguhan iman mereka berdua.
            Di perjalanan sepasang suami istri itu kemalaman. Di tengah gurun sepi, Musa melihat cahaya obor. Ia mengira itu milik musafir yang kemalaman. Mungkin bisa minta obor kali ya, begitu pikirnya.
            Tapi setelah didekati, ternyata cahaya itu berasal dari sebatang pohon kurma. Aneh sekali. Meski angin gurun sangat kencang, api itu nggak padam juga. Hati Musa bergetar aneh. Ini firasat akan terjadinya sesuatu.
            Lalu telinganya mendengar sebuah suara di balik bukit Thur. Itulah suara Allah. Nabi Musa menggigil ketakutan dan badannya langsung dingin.
            Kali kedua Tuhan berseru meminta beliau mendekat. Kali ini beliau menjadi lebih tenang. Di bukit Thur ini terjadilah dialog langsung antara beliau dengan Allah.
            Malam itu juga beliau dikaruniai dua mukjizat. Yang pertama, tongkatnya bisa menjadi ular besar. Yang kedua adalah telapak tangannya yang bisa mengeluarkan cahaya setelah ia keluarkan dari saku bajunya.
            Singkat cerita, beliau dan istrinya tiba di Mesir, di rumah kerabatnya, Nabi Harun as. Nabi Harun bercerita bahwa Mesir sudah demikian rusaknya. Banyak kemaksiatan dan kriminalitas di sana.
            Suatu saat, Musa dan Harun pergi menemui Fir'aun. Di sana juga berkumpul para tukang sihirnya. Bagai menemukan buron yang lama ia cari-cari, Fir'aun merasa ini saat yang tepat untuk menghabisi Musa. Ia tambah jengkel waktu Musa mengaku sebagai utusan Tuhan. Lho Tuhan yang mana? Kan gue Tuhannya? Begitu pikir Fir'aun.
            Terjadilah dialog antara Musa-Harun melawan Fir'aun. Eyel-eyelan Fir'aun dilengkapi dengan demo para tukang sihir yang menyihir ular-ular kecil. Tak lama, Musa memukulkan tongkatnya ke tanah. Subhanallah... muncul seekor ular besar yang dengan segera melahap ular-ular kecil itu.
            Kontan para tukang sihir dan hadirin pada melisut ketakutan. Banyak di antara mereka yang langsung menyatakan beriman akan tanda-tanda kekuasaan Allah itu. Bukan main murkanya Fir'aun! Langsung saja ia membantai orang-orang beriman. Ngeri membayangkan darah tumpah di sana saat itu.
            Setelah itu Mesir ditimpa kekeringan yang parahdan angin topan yang dahsyat. Tanaman pada mati dimakan belalang, kutu, dan katak. Tapi tetap saja Fir'aun dan orang-orangnya tidak mau beriman.
            Musa, Harun, dan kaum mukmin yang tersisa kemudian dikejar oleh balatentara Fir'aun. Ada 100 ribu pasukan berkuda Fir’aun dengan total balatentara 1,6 juta orang pasukan. Allah sebelumnya telah mewahyukan Musa untuk menuju ke Laut Merah.
            Tiba di Laut Merah, jarak kedua pasukan sudah semakin rapat. Orang-orang mukmin sudah sangat ketakutan. Allah mewahyukan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut.
            Subhanallah, tiba-tiba laut membelah. Tampaklah pasir dari dasar lautan. Musa dan orang-orang beriman bisa melintasinya hingga ke seberang.
            Fir'aun sangat heran melihat keajaiban itu. Serta merta ia memerintahkan pasukannya mengikuti jalan Musa. Tapi begitu seluruh pasukan sampai di tengah, laut tiba-tiba menutup lagi. Semua pasukan Fir'aun tewas tenggelam, tak bersisa!
            Musa dan kaumnya tiba di daratan Sinai. Cuaca sangat panas, orang-orang kelaparan dan kehausan. Musa lalu berdoa kepada Allah dan diperintahkan memukulkan tongkatnya ke tanah. Maka menjadilah 12 mata air untuk 12 suku. Dari langit turunlah Manna, sejenis makanan yang seperti embun namun manis rasanya. Juga Allah menurunkan Salwa, sejenis burung yang datang berbondong-bondong untuk mereka makan.
           
            Sepeninggal Fir'aun, rakyat sudah banyak yang beriman. Yang kafir sih ada juga, teteup!
            Salah satunya ada yang bernama Samiri. Ia membuat patung anak sapi dari emas. Emas-emas itu sebenarnya rampasan dari kaum Bani Israil yang ia lebur di perapian dan kemudian dibentuk seperti anak sapi. Kalau angin masuk ke lubang mulut patung itu, akan terdengar suara seperti bunyi lenguhan sapi jantan beneran. Terang saja ini menimbulkan kekaguman orang.
            Atas bujukan Samiri, banyak orang yang malah menjadikan anak sapi itu sesembahan. Hal ini terjadi saat Nabi Musa pergi ke bukit Sina selama empat puluh hari untuk menerima wahyu Allah. Saat itu pengawasan terhadap ummatnya diserahkan kepada Nabi Harun as.
            Nabi Harun sudah mengingatkan mereka tapi tidak berhasil. Keadaan ini membuat Nabi Musa kecewa dan marah. Ia mendatangi kaumnya dan mencoba menyadarkan mereka. Ia meminta 70 orang laki-laki untuk ikut bersamanya ke bukit Thur. Mereka harus bertobat di sana. Kaumnya yang bertobat diterima tobatnya oleh Allah swt.

            Allah swt menyuruh Nabi Musa membawa kaumnya, Bani Israil menetap di tanah suci Baitul Maqdis, Palestina.
            Maka beliau menyuruh utusan untuk terlebih dulu menyelidiki keadaan di sana. Apa boleh buat ternyata si utusan ini pengecut. Dia ngeper melihat orang Palestina yang tinggi, gede, dan kekar.
            Ada dua orang shaleh dari Bani Israil yang menasihati agar mereka masuk saja dari pintu kota. Namun mereka membangkang dan menyuruh Musa pergi sendiri ke sana.
            Akhirnya Allah mengharamkan Bani Israil memasuki Palestina dan mereka akan berkeliaran tanpa tujuan di Sinai selama 40 tahun.

            Suatu waktu, Nabi Musa mendatangi kerabatnya yang bernama Qarun. Dulunya Qarun ini beriman dan sangat alim. Tapi sejak ia menjadi kaya, ia malah berubah sombong dan kufur. Maksud Nabi Musa datang adalah untuk mengajaknya kembali kepada keimanan.
            Qarun menyambutnya dengan angkuh dan bahkan cuek banget. Nabi Musa pulang dengan sedih. Dasar Qarun, ia malah menyuruh pembantunya menaburkan pasir ke kepala Musa.
            Musa berdoa kepada Allah atas penghinaan yang ia terima. Tak lama Allah mengazab Qarun. Semua harta kekayaan Qarun ditenggelamkan Allah ke dasar tanah dan Qarun yang belagu itu juga disiksa dengan azab.
Kisah Musa dan Khidir
Al-Qur’an menceritakan pada kita kisah Musa dengan Khidir. Kisah tersebut menjelaskan kerendahan hati ketika menuntut ilmu dan berita-berita ghaib menakjubkan yang terjadi di antara mereka berdua, yang diperlihatkan oleh Allah kepada Khidir AS, dan tidak diketahui oleh Musa AS, meskipun beliau salah seorang rasul ulul ‘azmi. Hanya Allah saja yang mengetahui rahasia penciptaan Khidir. Dia memperlihatkan kepada orang yang diungguli (Khidir) sesuatu yang tidak diperlihatkan kepada orang yang utama (Musa). Kisah ini menyajikan peristiwa tentang perahu, pembunuhan anak kecil, dan pembangunan dinding. Semuanya adalah kisah yang meyakinkan dan manakjubkan.
Nabi Saw menginformasikan kisah Musa dan Khidir dengan metode yang apik dan menarik. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ubai bin Ka’b yang bersumber dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Suatu hari Musa AS berkhutbah di hadapan bani Isra’il. Lalu ia ditanya, ‘Siapakah orang yang paling berilmu?’ Musa menjawab, ‘aku’. Allah menegur Musa, karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah (Allah lah Yang Maha Alim-terj), kemudian Dia mewahyukan, ‘Sungguh, aku mempunyai seorang hamba di tempat berkumpulnya dua lautan. Ia lebih alim darimu.’ Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa bertemu dengannya?’ ‘Bawalah seekor ikan dan taruh ia dalam miktal (keranjang dari daun kurma-terj). Di mana kau merasa kehilangan ikan itu, berarti orang itu ada di sana.’
Musa berangkat bersama seorang pemuda, Yusya’ bin Nun. Ketika mereka sampai di sebuah batu besar, mereka membaringkan tubuh dan tertidur di sana. Ikan yang ada dalam mikyal bergerak-gerak dan keluar, lalu masuk ke laut: ikan itu melompat mengambil jalannya di laut. Allah menahan aliran air yang dilalui ikat tersebut, sehingga jalur air itu seperti busur. Di saat terbangun teman Musa lupa tidak memberitahu perihal ikan tersebut. Akhirnya mereka pergi menghabiskan siang dan malam, hingga pada keesokan harinya Musa berkata pada temannya, ‘Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan ini.’ –Musa tidak merasakan letih hingga ia sampai pada tempat yang telah ditentukan Allah sebelumnya—pemuda itu berkata pada Musa, ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sungguh aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang melupakanku selain setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ –jadi, bagi ikan berenang di laut itu merupakan jalannya, sedang bagi Musa dan temanya merupakan suatu keanehan.—Musa berkata, ‘Itulah tempat yang kita cari,’ lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.’
Nabi meneruskan kisahnya, “Mereka berdua kembali mengikuti jejak semula hingga sampai pada batu besar itu. Ternyata Khidir terbungkus oleh pakaiannya, Musa mengucapkan salam. Khidir menjawab, ‘Mana ada keselamatan di bumimu?! Siapa engkau?’ ‘Aku Musa.’ ‘Musa bani Isra’il’ kembali Khidir bertanya. ‘Benar, aku datang kepadamu supaya engkau mengajarku sebagian ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu.’ Khidir menjawab, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku. Hai Musa, aku mempunyai ilmu dari ilmunya Allah yang tidak engkau ketahui yang telah diajarkan kepadaku. Dan, engkau memiliki ilmu dari sebagian ilmu Allah yang telah diajarkan kepadamu dan yang tidak aku ketahui. Musa berkata, ‘Insya Allah, kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar. Aku tidak akan menentangmu dalam satu urusanpun.’ Khidir berkata, ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’
“Mereka berdua berjalan kaki di tepi pantai. Sebuah perahu lewat, lalu mereka meminta tumpangan pada pemiliknya. Pemilik perahu itu mengenal Khidir. Mereka berdua naik perahu tidak dipungut bayaran. Ketika keduanya telah menaiki perahu, Musa dikagetkan oleh Khidir yang tiba-tiba menjebol beberapa papan kayu perahu dengan martil. Musa berkata, ‘Mereka telah memberi kita tumpangan gratis, tapi engkau malah merusak lalu menenggelamkannya, akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.’
Rasulullah bersabda, “Pertanyaan Musa yang pertama kali kepada Khidir ini karena lupa. Seekor burung pipit datang dan hinggap di pinggir perahu, lalu ia mematuk ke air laut sekali patukan. Khidir berkata kepada Musa, ‘Tidaklah ilmuku dan ilmumu dibanding dengan ilmu Allah kecuali seperti air yang dihisap oleh burung pipit ini dari laut. Kemudian turun dari perahu. Tatkala keduanya sedang berjalan di pinggir pantai, tiba-tiba Khidir melihat seorang anak sedang bermain dengan teman-teman sebayanya. Segera Khidir memenggal kepala anak itu hingga tewas. Musa berkata, ‘Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan suatu yang mungkar.’ ‘Bukankah sudah kukatakan, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan bisa sabar bersamaku.’ Jawab Khidir. Sufyan berkata, “Pertanyaan Musa ini lebih parah dari yang pertama.” Musa berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sungguh engkau sudah cukup memberikan udzur padaku.”
Keduanya berjalan, hingga ketika sampai pada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Tidak berselang lama, keduanya menemukan di negeri itu dinding rumah yang hampir roboh. Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata, ‘Jika engkau mau, pasti engkau mengambil upah untuk itu.’ Khidir berkata, ‘Inilah perpisahan antara aku denganmu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan di mana kamu tidak bisa bersabar terhadapnya.” Rasulullah Saw bersabda, “Semoga Allah merahmati Musa, Aku ingin andaisaja Musa bisa bersabar, hingga Allah mengisahkan kepada kita cerita mereka berdua.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Al-Qurthubi berkomentar, “Keramat para wali memang benar ada berdasarkan keterangan hadis dan ayat-ayat yang mutawatir. Tidak ada yang mengingkarinya selain pembuat bid’ah penentang atau orang fasik yang akut. Beberapa ayat tersebut adalah apa yang diinformasikan Allah berkenaan dengan Maryam, seperti tersedianya buah-buahan musim dingin pada musim panas, buah-buahan musim panas pada musim dingin, dan apa yang terlihat dari tangannya ketika menggoyangkan pohon kurma kering, lalu ia berbuah. Padahal Maryam bukanlah seorang nabi perempuan. Demikian juga, apa yang terlihat lewat tangan Khidir, seperti menenggelamkan perahu, membunuh anak kecil, dan menegakkan dinding.”
Musa AS wafat
Musa AS meninggal dunia setelah meninggalnya saudara laki-lakinya, Harun, di daerah Tih. Beliau tidak masuk ke daerah al-Muqaddas besama bani Isra’il. Namun, Yusya’ bin Nun lah yang membawa mereka masuk ke sana, seperti telah kami jelaskan di depan. Ketika wafat, usia Musa AS telah mencapai 120 tahun.

Ayat-ayat tentang Nabi Musa as:
QS Al Qashash 3-17, 24, 25, 30, 32, 35, Asy Syu'araa 18-20, 33, 60-66, Thaahaa 12-14, 86-88, Yunus 92, Al A'raaf 142-145, Al Baqarah 54,